Minggu, 19 Juli 2015

Libur Ramadhan 1436H - Yogyakarta (3) Hari Lebaran

Pagi yang cerah ini, keluarga kecil saya menjalankan sholat Idul Fitri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, rumah saya menjadi tempat berkumpul keluarga besar. Om, Tante, Pakdhe, Budhe, dan semua keponakan akan datang ke rumah setelah sholat.

Gesit, adik saya, sudah lebih dulu berangkat bersama teman-teman seusianya ke lapangan tempat dilaksanakannya sholat berjamaah. Kemudian saya menyusul bersama bapak, sementara ibu saya berangkat paling terakhir karena ngurusin ini itu dulu di rumah. Kami sepakat untuk langsung berkumpul lagi di rumah setelah sholat. Setibanya di rumah, keluarga kecil kami langsung sungkeman, sebelum nanti dilanjutkan untuk sungkeman dengan seluruh keluarga besar. 

Buat Bapak & Ibuk,
Yudha & Gesit masih sering ngeyel, mohon maaf lahir batin ya..

Sungkeman adalah tradisi di keluarga kami untuk bersembah dan bersujud meminta maaf kepada orang tua. Tak jarang air mata tumpah ketika proses sungkeman berlangsung.

Setelah sungkem ke simbah, orang tua, pakdhe/budhe, dan om/tante, kemudian giliran saya didatangi oleh adik-adik keponakan saya. Maklum, saya cucu paling tua, hehehe.. Kegiatan setelah sungkem adalah momen-momen yang sangat dinantikan oleh anak-anak. Bisa tebak? Hahahah, benar. Acara bagi-bagi amplop lebaran! Canda tawa serta keceriaan dapat dipastikan memenuhi seisi ruangan ini.

Selesai tradisi sungkeman dengan keluarga besar, kemudian tamu-tamu dan tetangga mulai berdatangan ke rumah kami. Bergantian, mereka mendatangi rumah dikarenakan konon katanya kakek/nenek kami merupakan sosok yang dihormati di jamannya dulu. Kami menunggu sampai tidak ada tamu yang datang lagi, lalu bergegas menuju ke mushola untuk mengikuti acara halal bihalal se-RW.



Sebelum ke mushola, sama Rio & Yoga.

------------------------------------

Makam kakek, alm. Minoto, dan juga makam adik kami yang telah lebih dulu dipanggil oleh-Nya, almh. Rara, adalah rangkaian selanjutnya yang selalu kami jalankan di hari Lebaran. Lagi, air mata berjatuhan di hari yang fitri ini. Semoga alm. dan almh. diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, Amin.


Setibanya kami di rumah, saya dan adik-adik keponakan bercengkerama di halaman rumah. Nggak kerasa kalian udah pada gede yah...



Tapi sayang ada beberapa cucunya simbah yang ga bisa ikut foto hari ini. Semoga tahun depan bisa ikut foto semuanya ya..


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H
Mohon Maaf Lahir dan Batin.


-Yogyakarta, 17 Juli 2015-

Sabtu, 18 Juli 2015

Libur Ramadhan 1436H - Yogyakarta (2) - Kejutan penutup Ramadhan

Masih tentang liburan di Yogyakarta,
Ditemani Jimi Hendrix, Gugun Blues Shelter, dan beberapa batang rokok.

Suasana remang-remang di salah satu sudut sekolah masih menjadi tempat favorit kami untuk berkumpul, alumni angkatan 2009 SMA N 8 Yogyakarta. Entah sampai kapan kebiasaan ini akan terus berlanjut. Walaupun mungkin topik bahasan dari tahun ke tahun hanya itu-itu saja, namun kami masih sangat menikmatinya, bernostalgia. Namun karena warung tempat kami biasa pesan minum sudah tutup, kami memutuskan untuk melanjutkan reunian ke sebuah warung bernama "Top Gear Coffee" di daerah Terban, rekomendasi dari si Uki (paling kiri).

 Reuni anak 'sehat'

Reuni anak 'sehat', itulah kata yang dipakai si Bengak (3 dari kiri) untuk upload foto ini ke jejaring sosial.


--------------

Hari berikutnya, saya mendapati pesan masuk dari sahabat saya Mamec. Mamec tiba-tiba minta doa semoga lancar acaranya. Awalnya saya agak bengong, acara apa? Setelah saya fokuskan pada gambar yang dia kirimkan bersamaan dengan pesan tersebut, saya baru paham ternyata gambar itu adalah potongan dari surat pernyataan berniat menjadi suami-istri yang sudah ditandatangani.

Mamec ini adalah gitaris dari SRI PLECIT, salah satu band indie lokal Yogyakarta yang bergenre ska (Saya akan menulis khusus tentang SRI PLECIT band di kesempatan lain). Setelah berkoordinasi dengan Galih a.k.a Grameh sang vokalis, akhirnya kami sepakat untuk datang ke acara ijab qabul. Ya, bisa dibilang anggota band itu keluarga kedua, sehingga tanpa perlu waktu lama, semua anggota SRI PLECIT mengiyakan untuk ikut ke acara kecuali Wipti, karena dia masih ada kerjaan. Awank dan Hasan ditugasi menyiapkan mobil sewaan. Saya kontak Iqbal untuk minta tebengan ke tempat janjian. Ada Pihik dan Uma yang juga confirm akan ikut ke acara ijab.

Pukul 1 siang kami berangkat dari Jogja menuju rumah Mamec di Magelang. Sesampainya disana, kami sempat tepar dulu di salah satu kamar rumahnya sambil menunggu berangkat ke TKP yang direncanakan jam 4 sore. Pukul 4 kami berdoa bersama sebelum berangkat. Kami berangkat bersamaan dengan rombongan keluarga Mamec menuju rumah calon istri. Kami tiba di TKP tepat sebelum adzan Maghrib. Setelah berbuka puasa dan diikuti sholat Maghrib berjamaah, akhirnya dimulailah ritual sakral ijab qabul tersebut. Prosesi berjalan lancar, Mamec dengan mantap mengucapkan kalimat pengikat itu. Jujur, saya pribadi terharu, karena Mamec adalah teman dekat saya yang pertama kali melangsungkan ijab qabul.








Sah! Sah!!

Selamat menikah teman!!!




To be continued...

Selasa, 14 Juli 2015

Libur Ramadhan 1436H - Yogyakarta (1)

Hargai waktu, karena dialah satu-satunya yang tidak akan pernah kembali.

Tulisan kali ini tentang kegiatan selama liburan di Jogja. Yaa, Jogjakarta!!

Pertengahan Mei 2015, jadi hari berburu bagi para perantau ibukota. Tiket pulang kampung mendadak menjadi trending topic. Dan singkat cerita sayapun mengikuti perburuan tersebut, dan akhirnya dapatlah satu tiket ke jogjakarta, berangkat tanggal 11 Juli 2015. Yeah, tiket mudik sudah aman di tangan.  Sampai di Jogjakarta tanggal 11 sore, dijemput oleh bapak di stasiun. Ya, 2 tahun belakangan ini bapak setia menjemput saya apabila saya pulang kampung. Sebelumnya, boro-boro ke rumah, kadang basecamp Sriplecit jadi persinggahan malam pertama saya, kemudian baru keesokan harinya saya pulang ke rumah.

Buka puasa di rumah, ada bulek Yuni dan om Yuli yang memang sedang main ke rumah, dan ada Mbah Mino juga. Farah dan Alif rebutan minta dipangku. Hahaha what a wonderful life...

Selesai taraweh di masjid deket rumah, sebenarnya ada janjian bukber alumni SMA 8 Yogyakarta, tapi karena ga ada kabar lanjutannya, maka saya urungkan niat untuk berangkat ke TKP. Acara lain menunggu. Ya, di Jogja ini saya punya istilah mrono konco mrene konco. Langsung aja bikin janjian sama temen lainnya di daerah Klebengan, Kedai Kopi Manut namanya. Awalnya kami hanya bertiga ngobrol ngalor ngidul. Semakin malam semakin hangat, sehingga muncul ide-ide untuk mangundang teman-teman kami yang lain untuk bergabung kesini. Akhirnya satu jam setelah undangan tersebar, teman SMP, SMA, dan STAN sudah berkumpul jadi satu, untuk sekedar hahahihi. We can talk about everything. Love it!

Kedai kopi tersebut tutup jam 1 dini hari, dan kami lanjutkan ke pelataran kampus UNY. Random call jadi bahasan di pagi itu. Konyol. Jadi masing-masing kita cari di kontak masing-masing nomor cewek yang akan kita gangguin, kemudian kita calling pakai privat number untuk sekedar ngebangunin sahur, dan ngobrol sekenanya. Freak banget asli hahaha.

Malam berikutnya, giliran one of my best friend. Setiap ke Jogja, hampir pasti saya sempatkan untuk sekedar ngobrol dengan Gontenk. Gontenk tahun ini udah buka toko clothing sendiri, Tenkit Garage namanya. Cool! Kebetulan ketika mampir ke Tenkit Garage, ada Acid juga yang lagi main. Ngobrollah kami bertiga, topik malam itu adalah tentang pajak.

Di tengah obrolan kami, saya putuskan untuk menarik diri dari forum untuk menemani Mayang via telepon. Gegana, gelisah galau merana. Mayang itu temen kantor, yang kosannya sebelahan sama saya dan Octa. Untuk 2 nama terakhir ini, akan saya tulis di kesempatan lain.

Kembali ke tema Jogjakarta,
Minggu sore, saya dapat kabar meninggalnya ayahanda dari Guru saya, Pak Suwardi. Setelah taraweh, saya dan keluarga tauziyah ke kediaman beliau. Keesokan harinya, anak-anak taxsys janjian untuk datang juga ke jogja, dan singgah di rumah saya sebelum ke pemakaman.

Semoga amal ibadah beliau Bapak Widodo diterima disisi-Nya, diberikan tempat yang paling mulia, amin ya rabb...


To be continued...

Kamis, 02 Juli 2015

BvDEP Independent Indicator

BvDEP adalah singkatan dari Bureau van Dijk Electronic Publishing, yang memberikan penilaian berdasarkan analisis mengenai struktur kepemilikan suatu perusahaan berupa indikator huruf.  Penilaian itu melekat pada sebuah perusahaan, untuk menentukan tingkat kepemilikan dari suatu perusahaanBerikut ini beberapa huruf yang digunakan sebagai acuan berdasarkan kualifikasi-kualifikasi tertentu:


1. Indikator A
Indikator A melekat pada perusahaan yang struktur kepemilikannya masing-masing tidak lebih dari 25%.  Lebih jauh, struktur kepemilikan dengan indikator A ini diklasifikasikan sebagai berikut:

A+ : Perusahaan dengan 6 atau lebih pemegang saham dengan prosentase kepemilikan saham yang diketahui.
  : Perusahaan dengan 4-5 pemegang saham, termasuk diantaranya adalah perusahaan lain, dengan prosentase kepemilikan saham yang diketahui.
A- : Perusahaan dengan 1-3 pemegang saham, termasuk diantaranya adalah perusahaan lain,dengan prosentase kepemilikan saham yang diketahui.

Logika atas penilaian ini adalah semakin banyak jumlah pemegang saham, maka semakin kecil pula kemungkinan bagi para pemegang saham tersebut untuk memiliki prosentase kepemilikan diatas 25%.  Hal ini akan menguatkan persepsi bahwa perusahaan tersebut adalah independen.

Penilaian "+" atau "-" tidak menunjukkan bahwa tingkat independensi lebih tinggi atau lebih rendah, namun nilai tersebut terikat pada tingkat keandalan indikator yang dipakai.

Dalam terminologi BVDEP, indikator A ini disebut "independent company"


2. Indikator B
Indikator B melekat pada perusahaan yang struktur kepemilikan masing-masing tidak melebihi 50%, namun ada 1 atau beberapa pemegang saham yang prosentase kepemilikannya lebih dari 25%.

Indikator B juga lebih jauh diklasifikasikan dengan B+, B, dan B-, dengan kriteria yang sama dengan indikator sebelumnya.


3. Indikator C
Indikator C melekat pada perusahaan yang di dalam struktur kepemilikannya terdapat pemegang saham yang memiliki total atau akumulasi total kepemilikan melebihi 50%. Indikator C tidak memiliki klasifikasi lebih lanjut sebagaimana yang ada pada Indikator A dan Indikator B.


4. Indikator D
Indikator D melekat pada perusahaan yang di dalam struktur kepemilikannya terdapat kepemilikan langsung melebihi 50%.


5. Indikator U
Indikator U melekat pada perusahaan yang struktur kepemilikannya tidak dapat dikategorikan sebagai A, B, C, atau D, dimana hal ini mengindikasikan bahwa derajat kepemilikan dari perusahaan tersebut tidak diketahui secara jelas.


sumber : http://www.estgv.org/gestao/upload/cursos/files/20120504_32_man_amadeus_site.pdf