Selasa, 10 September 2019

Kolam Susu jadi Kolam Lumpur?

Miris

Mengutip perbincangan Shindu Alpito dan Pak Yok Koeswoyo dalam satu video yang ada di Youtube Channel Medcom.id dengan rubrik Shindu's Scoop, kata miris menjadi highlight pribadi saya mengenai bagaimana kondisi bangsa dan negara era sekarang dibandingkan dengan era Pak Yok Koeswoyo pada masanya.

Yang menarik perhatian saya pribadi adalah dinyanyikannya versi slengean dari lagu Kolam Susu dari Koes Plus oleh Pak Yok di tengah-tengah wawancara sebagai berikut:

Kolam Susu
Bukan lautan, hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

"Gambaran dari Koes Plus mengenai betapa kaya dan istimewanya Indonesia kita ini."

Kolam Lumpur
Bukan lautan, hanya kolam susu
Kali dan jala sudah banyak yang nganggur
Tiada ikan tiada udang kau temui
Semuanya sudah habis dicuri

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tapi sayangnya, salah kelola

"Ungkapan kekecewaan Yok Koeswoyo terhadap Indonesia saat ini (mungkin)."


Tanpa melihat kapasitas saya pribadi, dibantu kertas coretan saya mencoba menggenapkan dua baris terakhir di bait terakhir (yang tulis tebal).

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tapi sayangnya, salah kelola
Sekarang saatnya, Hei para pemuda
Bersama-sama coba bukalah mata!


-kanoviknv-10092019-

Menjadi Terjadi

Happened

Harmoni raga dan jiwa
Bulatkan jadi satu kenyataan
Perbuatan

Perbuatan menjadikan terjadi
Alam pun juga
Tersenyum menyapa
Kadang juga marah membentak
Pembalasan

Kesadaran hakikat menjadi kunci
Tidak pernah ada yang terlewatkan
Pun tidak diperhitungkan
Keniscayaan

Sungguh semua menjadi terjadi
Tanpa perlu menyadari
Cukup berserah diri



-kanoviknv-03092019-

Dialektika Paradoks

Imajinasi; Imajiner

Ketika Tuhan dipertanyakan
Ketika peradaban tak dipergunakan
Benarkah jalan yang kupilih
Ah, entahlah.....
Bermesraan menjadi satu-satunya media penyembuh

Ketika tak ada lagi kata untuk disampaikan
Berbondong-bondong orang merayakan kebodohan
Secuil mereka tertawa; bentuk kemunafikan
Menghayati kejahatan paling murni

Kembali kepada bentuk dimana bermesraan menjadi satu-satunya media penyembuh
Berputar di kepala, tanah indah tergambar

Pantas dan cukup kah?
Tak pantas sepertinya.....