Senin, 28 Desember 2020

2020, its a wrap!

 Hi,


Benar adanya kata banyak orang, bahwa memang kenyataan hidup memang tak selalu seindah harapan kita masing-masing. Harus tetap semangat menutup tahun ini dan bersiap menyambut tahun baru 2021. Semoga kita semua selalu dalam limpahan rahmat Tuhan Pencipta Alam. Amin!

Pergantian tahun hanyalah sepenggal dari perjalanan hidup manusia. Perjalanan hidup itu bisa kita maknai melalui berbagai sudut pandang, jarak pandang, dan resolusi pandang. Masalah indah dan tidak indah sebuah perjalanan sangatlah relatif. Yang paling penting adalah prosesnya. Selalu lakukan semua hal dengan sungguh-sungguh, kalau perlu 111%.


Here's recap of my 2020:

Awal tahun dibumbui dengan semangat resolusi yang hangat-hangat tai kucing.

Januari 2020 mencoba memahami instrumen investasi reksadana. Bermula dari sekedar ingin tau, akhirnya mengulik banyak hal mengenai investasi. No matter whether you come up with gain or loss on your investment, it is really worth to try!

Maret 2020 Indonesia mulai dihantam virus Covid-19, yang notabene di awal tahun banyak pejabat yang mengabarkan jika Indonesia relatif aman terhadap virus tersebut.

Setelah Covid merebak di seluruh daerah Indonesia, ruang gerak menjadi sangat terbatas. Tetapi layaknya sifat Tuhan yang maha paradoks, virus ini pun menghadirkan paradoks nya sendiri, terutama bagi Indonesia. Di satu sisi, Covid-19 memang meluluhlantakkan aspek ekonomi masyarakat. Banyak perusahaan besar terbentur krisis sehingga memaksa mengambil tindakan untuk mengurangi pegawai (PHK). DI bidang kesehatan, tenaga kesehatan sebagai pejuang garda terdepan juga banyak gugur di medan pertempurannya dengan virus ini. 

Tetapi di sisi lain, Covid-19 juga ikut andil dalam memaksa percepatan teknologi bagi banyak ruang publik yang selama ini terstrigma "malas" oleh sebagian masyarakat sipil. Di bidang pendidikan, virus ini semakin mengekspos ketidakmerataan sarana dan prasarana pendidikan yang mumpuni. Semoga hal-hal yang telah terjadi ini menjadi evaluasi bagi pihak-pihak terkait untuk melakukan perbaikan di masa-masa mendatang.


Di semester akhir 2020, masih dalam rangka menghadapi virus covid-19 yang tak kunjung usai ternyata Tuhan tetap Sang Maha Tak Terduga atas segala takdir. Banyak doa terucap sebagai awal dari hal-hal baru selanjutnya.

September 2020 Bapak dipanggil-Nya pulang ke rahmatullah, sebulan sebelum beliau berulang tahun ke 61. Semoga Bapak ditempatkan di sisi Allah yang paling mulia ya pak, Amiin. Al-Fatihah....

Oktober 2020 terkabar di pengumuman instansi Kemendikbud-Dikti perihal kelulusan menjadi Aparatur Sipil Negara untuk jabatan Pranata Laboratorium Pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan kepulauan.

November 2020 langkah awal membangun keluarga kecil sendiri bersama nyonya Indah Pertiwi. Semoga Allah selalu melindungi kami.

Desember 2020, tempat baru dan lingkungan baru. Berbekal doa dan restu dari banyak keluarga dan kerabat di Jogja-Semarang, kami menuju kabupaten Pangkajene dan kepulauan. Pangkajene menjadi domisili baru bagi keluarga kecil kami. Hari ini tepat seminggu kami tinggal di Pangkajene. Suka dan duka biarlah menjadi proses yang membimbing kami menuju kedewasaan.

And finally it is a wrap for my 2020. 

Doa penutup akhir tahun adalah semoga selasa atau kamis ini proses NIP CPNS Kemendikbud sudah selesai di proses oleh BKN Pusat, dan segera mendapatkan kepastian mengenai kapan mulai tugas menjadi PLP di Politani Pangkep. Juga semoga keluarga kecilku, keluarga besar di Jogja dan di Semarang selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan Semesta Alam. Amin!


Pangkajene, 28 Desember 2020.

Sabtu, 30 Mei 2020

Mayat Hidup

Sebenarnya apa saja yang sudah ditelan masuk?
Sistematis dari hulu ke hilir
Semua serba otomatis
Aksi-reaksi

Bagai abstraksi sang seniman
Bergumul di dalam akal pikiran sendiri
Saling membenturkan
Saling melunturkan

Mau runtuh, mau rusuh, mau rubuh
Tak ambil pusing
Semau mereka saja

CAPEK!

Rabu, 29 April 2020

Pandemi jadi produktif? Fakta atau Mitos?

Seorang pemudi bernama Indah Pertiwi, membuktikan bahwa pandemi membuat produktif adalah FAKTA

#1
Kamu adalah rumah yang akan selalu menjadi tujuan
entah bagaimanapun jalan yang akan ku tempuh

Aku melihatmu dari kejauhan saat kamu tersenyum seraya berkata, 'hai, kau sudah sampai?', kemudian dengan tenang menenangkanku yang telah dimakan amarah karna menunggumu


Sudah saatnya kita berpisah, lagi
Mengapa waktu seakan enggan berhenti, barang sebentar saja dan memulai berpihak kepada kita
Apakah semesta memang takpernah mengutamakan kita, atau sebenarnya aku yang tak pernah bersyukur atas waktu yang telah ia berikan

Aku memelukmu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhmu
Bau tembakau dan keringatmu menjadi pengingat bahwa kamu adalah rumah dan akulah pemiliknya, seakan enggan melepaskan dan aku tak mau tahu sudah berapa lama kita bersama

Indah Pertiwi
Semarang, 29 April 2020


#2
Kamu sedang bersedih? Menangislah, teruskan menangis hingga kamu sadar perihal apa di dunia ini yg km anggap penting melebihi diri kamu sendiri.

#3
Awan yg kamu ciptakan mengepul dengan sempurna, membuatku sangat nyaman memandangnya, sampai pada titik aku tersadar ia hanyalah sekumpulan gas indah tanpa pijakan, sekali aku memutuskan untuk melangkah maka patahlah kaki dan lenganku.

#4
Saat km memutuskan membawanya beranjak dengan motor tuamu, mungkin km bisa saja berkata "sudah kita jalan-jalan sore saja, menghilangkan penat". Kamu lupa susunan kata penghilang penat itu justru akan membuatnya semakin penat, kamu tak memberinya tujuan yang pasti. Punggungnya bisa saja pegal dan kaki nya mungkin sudah kram. Saat itu terjadi mungkin dia memilih untuk turun dan kembali pd persinggahan nyamannya.

#5
"Aku yakin setiap secangkir minuman memiliki tugas masing-masing, hingga setiap hari nya ia akan dengan sendiri nya menemukan sang pemilik. Berharap sang pemilik lebih baik hari-hari nya."

#6
"Aku sudah mengubah sikapku dan berharap dia pun akan berubah dan menerimaku". Kamu berada pada kotak pikiran yang salah. Kamu pikir dia siapa? tuhan? Hingga kamu berani mengharapkan sesuatu padanya. Jika kamu menjadi baik sekarang, dan balasan tak datang di waktu yang sama, maka perjalanan berikutnya kamu akan tahu bagaimana langkah yang tepat pada kesalahan yang sama.


Indah Pertiwi
Semarang, 29 Mei 2020



Selasa, 10 September 2019

Kolam Susu jadi Kolam Lumpur?

Miris

Mengutip perbincangan Shindu Alpito dan Pak Yok Koeswoyo dalam satu video yang ada di Youtube Channel Medcom.id dengan rubrik Shindu's Scoop, kata miris menjadi highlight pribadi saya mengenai bagaimana kondisi bangsa dan negara era sekarang dibandingkan dengan era Pak Yok Koeswoyo pada masanya.

Yang menarik perhatian saya pribadi adalah dinyanyikannya versi slengean dari lagu Kolam Susu dari Koes Plus oleh Pak Yok di tengah-tengah wawancara sebagai berikut:

Kolam Susu
Bukan lautan, hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

"Gambaran dari Koes Plus mengenai betapa kaya dan istimewanya Indonesia kita ini."

Kolam Lumpur
Bukan lautan, hanya kolam susu
Kali dan jala sudah banyak yang nganggur
Tiada ikan tiada udang kau temui
Semuanya sudah habis dicuri

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tapi sayangnya, salah kelola

"Ungkapan kekecewaan Yok Koeswoyo terhadap Indonesia saat ini (mungkin)."


Tanpa melihat kapasitas saya pribadi, dibantu kertas coretan saya mencoba menggenapkan dua baris terakhir di bait terakhir (yang tulis tebal).

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tapi sayangnya, salah kelola
Sekarang saatnya, Hei para pemuda
Bersama-sama coba bukalah mata!


-kanoviknv-10092019-

Menjadi Terjadi

Happened

Harmoni raga dan jiwa
Bulatkan jadi satu kenyataan
Perbuatan

Perbuatan menjadikan terjadi
Alam pun juga
Tersenyum menyapa
Kadang juga marah membentak
Pembalasan

Kesadaran hakikat menjadi kunci
Tidak pernah ada yang terlewatkan
Pun tidak diperhitungkan
Keniscayaan

Sungguh semua menjadi terjadi
Tanpa perlu menyadari
Cukup berserah diri



-kanoviknv-03092019-

Dialektika Paradoks

Imajinasi; Imajiner

Ketika Tuhan dipertanyakan
Ketika peradaban tak dipergunakan
Benarkah jalan yang kupilih
Ah, entahlah.....
Bermesraan menjadi satu-satunya media penyembuh

Ketika tak ada lagi kata untuk disampaikan
Berbondong-bondong orang merayakan kebodohan
Secuil mereka tertawa; bentuk kemunafikan
Menghayati kejahatan paling murni

Kembali kepada bentuk dimana bermesraan menjadi satu-satunya media penyembuh
Berputar di kepala, tanah indah tergambar

Pantas dan cukup kah?
Tak pantas sepertinya.....



Senin, 15 April 2019

Anakmu Bukanlah Milikmu
Karya : Khalil Gibran


ANAKMU BUKANLAH MILIKMU

Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada dirinya sendiri.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau.
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran sendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan
Tidak pernah berjalan mundur.
Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat jauh dengan cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemurah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat.
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.


Hari ini ada niatan untuk kabur aja, minggat dari rumah, tapi kayaknya aku gak mampu juga buat ngelakuin itu.

Calm down, ambil napas, dan inget terus satu hal ini: Jangan pernah kurang ajar sama simbok!

#Selfreminder